Haura Bintany Lathifah, Puisi, Lagu, dan Jalan menjadi Diri
- Mohammad -
- 18 Aug, 2026
SUMENEP I MaduraNetwork.id - Di
hadapan ratusan peserta upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik
Indonesia, Haura Bintany Lathifah berdiri dengan mikrofon di tangannya. Anak 11
tahun yang biasa disapa Bintan itu membacakan puisi Ibu Pertiwi karya Bupati Sumenep, kemudian
menyanyikan Lukisan Indonesia
karya Mhala dan Tantra Numata.
Pagi itu, halaman Kantor Pemerintah Kabupaten
Sumenep berubah menjadi panggung bagi seorang anak sekolah dasar. Tepuk tangan
terdengar setelah penampilannya.
Namun, panggung tersebut bukan titik awal
perjalanan Bintan. Jauh sebelum tampil dalam upacara kemerdekaan, siswi kelas V
SDIT Al-Wathoniyah itu sudah akrab dengan puisi, lagu, dongeng, dan berbagai
perlombaan.
Ia telah mengumpulkan sejumlah prestasi dalam
menyanyi solo, baca puisi, mendongeng, lagu nasional, hingga lagu Madura. Dua
tahun berturut-turut Bintan meraih juara pertama menyanyi solo FLS3N. Ia juga
pernah menjadi juara pertama lomba menyanyi solo tingkat Madura di Pamekasan
serta memperoleh sejumlah penghargaan dari lomba puisi dan mendongeng.
Lukisan Indonesia yang
dinyanyikannya dalam upacara kemerdekaan pun bukan karya yang baru
dipelajarinya. Lagu itu sebelumnya telah mengantarkan Bintan meraih juara
pertama dalam lomba tingkat Madura.
Di balik sederet prestasi tersebut, ada proses
yang berlangsung lebih sederhana: latihan di rumah, pendampingan orangtua, dan
keberanian untuk terus mencoba.
Di rumah, Bintan tidak hidup dalam suasana
seperti seorang calon bintang yang setiap harinya harus berlatih. Ia tetap
menjalani rutinitas anak seusianya. Belajar, mengaji, bermain, tidur siang,
membuat kerajinan, dan menggunakan gadget menjadi bagian dari kesehariannya.
Keterbatasan alat musik juga tidak selalu
menjadi penghalang. Karena tidak memiliki alat musik, Bintan memanfaatkan
aplikasi piano di gadget untuk mengenal nada dan mencoba memainkan melodi.
Orangtuanya, Arimas Valentina Fitri Pasa dan
Aji Prasetya Budiman, memilih pendekatan yang tidak memaksakan kehendak. Mereka
mencoba membaca ketertarikan anak, kemudian memberikan kesempatan untuk
mengembangkannya.
“Kami mendidik anak-anak dengan santai tapi
serius, dan tidak otoriter,” ujar Arimas.
Bakat Bintan dalam puisi bahkan tumbuh dari
lingkungan keluarga. Arimas pernah mengikuti lomba puisi dan mengenal sastra
melalui ayahnya, yang merupakan kakek Bintan. Pengalaman itu kemudian diteruskan
kepada putrinya.
Arimas sendiri yang melatih Bintan membaca
puisi. Ia mengajarkan cara mengatur napas, memahami kata, mengatur intonasi,
dan membangun suasana ketika menyampaikan puisi.
Bagi Bintan, membaca puisi dengan demikian
bukan sekadar menghafalkan teks. Ada proses memahami dan menghidupkan kata-kata
di hadapan penonton.
Sementara kemampuan bernyanyi berkembang
melalui kursus dan kompetisi. Setiap perlombaan menjadi ruang bagi Bintan untuk
menguji kemampuan sekaligus membangun kepercayaan diri.
Bagi keluarga, penghargaan yang diperoleh
Bintan bukan tujuan akhir.
Arimas lebih melihat setiap kesempatan tampil
sebagai bagian dari proses tumbuh seorang anak. Piala dapat menjadi tanda
pencapaian, tetapi keberanian untuk tampil dan menemukan sesuatu yang disukai
anak dinilai jauh lebih penting.
“Dengan munculnya Bintan, seorang anak kecil
bisa tampil di acara besar seperti tadi, itu kami sudah MasyaAllah sekali,
bangga sekali,” kata Arimas.
Harapan itu pula yang membuat keluarga tidak
ingin perjalanan Bintan berhenti pada deretan kejuaraan. Mereka ingin bakatnya
berkembang bersama kepercayaan diri, tanpa membuat masa kanak-kanaknya
kehilangan ruang untuk bermain dan menikmati kehidupan.
Arimas memiliki harapan agar bakat tersebut
kelak dapat membawa Bintan lebih jauh.
“Dari Bintan kecil, semoga nanti sampai menjadi
Bintan yang besar di dunia entertain,” ujarnya.
Jalan menuju dunia hiburan masih panjang.
Bintan baru berusia 11 tahun dan masih berada di bangku sekolah dasar. Panggung
di halaman Pemkab Sumenep pun hanyalah salah satu dari sekian banyak panggung
yang mungkin akan dilaluinya.
Yang sedang dibangun bukan hanya kemampuan
bernyanyi atau membaca puisi. Ada keberanian, kedisiplinan, kepekaan terhadap
kata, dan kemampuan menyampaikan sesuatu kepada orang lain.
Pada usia ketika sebagian anak masih mencari
keberanian untuk berbicara di depan kelas, Bintan mulai menemukan kekuatannya
melalui suara.
Suara itu mungkin kelak membawanya ke panggung
yang lebih besar. Tetapi untuk saat ini, perjalanan terpentingnya adalah terus
belajar menemukan siapa dirinya, tanpa kehilangan kegembiraan menjadi seorang
anak.
Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *

